By Ernest Mandel
“Gerakan
Mahasiswa Revolusioner: Kesatuan Teori dan Praktek”[1]
“Tulisan Ernest Mandel ini
merupakan kumpulan dari pidato dia yang mengangkat tema gerakan mahasiswa. Tema
ini diangkatnya sebagai respon atas kecenderungan aktivisme dan spontanisme di
kalangan aktivis radikal, khususnya mahasiswa. Untuk membahas ini dia
menggunakan tools tentang pentingnya kesatuan
teori dan praktek dalam perlawanan revolusioner”.
Persatuan
teori dan praktek merupakan pelajaraan paling berharga dari revolusi-revolusi
di Eropa dan belahan dunia lainnya. Gagasan untuk menyatukan antara keduanya
dimulai dari pendapat para filsuf seperti Babeuf, Hegel hingga Marx. Penyatuan
teori dan praktek memiliki dimensi bahwa upaya pembebasan manusia dari
genggaman sistem ekonomi yang kapilatistik harus dilakukan secara sadar.
Implikasinya, setiap elemen yang melakukan hal tersebut harus menyadari kondisi
real dimana ia berada. Aspek ekonomi, sosial dan politik harus menjadi
kajian pertama untuk mendefinisikan seperti apa kondisi di sekitar subyek
perlawanan tersebut. Bila menggunakan teori Marx, revolusi hanya dapat
dilakukan secara sadar dimana orang memahami azas masyarakatnya dan faktor
pendorong gerak perkembangan sosial ekonominya. Tanpa mengetahui ini, revolusi
hanya akan menjadi sebuah utopia saja. Gagasan tentang penyatuan teori dan
praktek harus dimulai dari preposisi ini. Kesadaran tentang posisi dan kondisi
sosial, ekonomi, dan politik di sekitar mahasiswa hidup harus di-clear-kan
terlebih dahulu, sehingga dia bisa memahami apa yang menjadi musuh zamannya.
Untuk
hal ini, sudahkan kita lakukan?
Munculnya
gerakan mahasiswa di dunia Barat menurut Ernest Mandel pada umumnya disebabkan
oleh permasalahan di sekitar mahasiswa itu sendiri. Permasalahan dimulai dari
adanya ketegangan antara mahasiswa dengan Universitas, Institut atau Sekolah
Tinggi dimana dia bernaung. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi yang terjadi
di dunia ketiga. Perlawanan mahasiswa dan non-mahasiswa di sana lebih didorong
oleh realitas mereka yang masih di bawah penjajahan.
Sebagian
besar anak muda di dunia Barat yang masuk ke Universitas berasal dari
kalangan menengah atas. Kondisi ini membuat mereka tidak memiliki
keterkaitan erat dengan dunia perlawanan, baik di rumah ataupun masyarakatnya.
Di sisi lain, kondisi mahasiswa yang berasal dari kalangan bawah menjadi sangat
minor. Segmen ini yang sebenarnya memiliki potensi perlawanan yang lebih besar di
sana. Namun secara umum mahasiswa-mahasiswa tersebut, baik dari kalangan
menengah-atas dan proletar, menemukan keadaan yang menuntut mereka untuk
harus melawan setelah mereka masuk dan merasakan sendiri realitas di
Universitas. Hal ini yang akhirnya menuntun mereka pada perlawanan mahasiswa
secara meluas. Perlawanan ini dikarenakan oleh sebuah kondisi yang digambarkan
Ernest Mandel sebagai berikut, “…ini sudah mencakup
organisasi, struktur dan kurikulum universitas yang
amat tidak memadai dan serangkaian fakta material, sosial dan
politik yang dialami dalam kerangka universitas borjuis, yang semakin
tidak dapat ditahan oleh kebanyakan mahasiswa.”
Di
sisi lain, menurut pendidik dari Kanada yang dikutip Ernest, sebab dari adanya
perlawanan mahasiswa ini lebih pada aspek materialnya. Universitas dalam hal
ini menciptakan “proletariat” baru dimana mahasiswa tidak diperbolehkan
berpartisipasi dalam penentuan kurikulum, dan tidak berhak menentukan kehidupan
mereka sendiri selama di kampus. Semua wewenang tersebut dipegang dan diatur
secara ketat oleh kampus. Hal ini yang membuat mahasiswa berada dalam
keterasingan (alienasi) dengan kehidupannya sendiri. Kehendak untuk
mengekspresikan diri sesuai dengan minat dan kapasitasnya dibatasi oleh sistem.
Semua diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri yang kapitalistik. Dalam
analisisnya, Ernest memandang bahwa hal ini dipengaruhi oleh sistem yang
berlangsung di masyarakat. Bentuk kesewenangan struktur di universitas borjuis
merupakan cerminan atas apa yang ada di masyarakat borjuis. Kesewenangan di
keduanya ini yang ditentang oleh mahasiswa secara umum. Di sisi lain, mereka
juga mendapatkan tantangan dari substansi pendidikan yang diperolehnya.
Pendidikan tidak memberikan analisis ilmiah yang obyektif atas realitas dunia.
Kondisi ini tentu tidak memuaskan mahasiswa yang umumnya haus akan ilmu
yang sesuai dengan zamannya. Isu ini yang menjadikan tantangan mahasiswa
menjadi dua, yaitu struktur organisasi dan substansi pendidikan. Ini yang
kemudian menjadi sebab mahasiswa melawan dan memberontak atas institusinya
sendiri.
Universitas
borjuis dalam melihat perlawanan tersebut berusaha meredam dengan memberikan
solusi yang sifatnya reformasi Universitas. Namun hal ini tidak pernah berhasil
meredam perlawanan mahasiswa, karena tidak pernah menyentuh akar permasalahan.
Akar permasalahan yang dimaksud adalah keterasingan (alienasi) mahasiswa yang
disebabkan oleh struktur dan substansi pendidikan tadi. Reformasi yang
ditawarkan justru mempertinggi keterasingan dengan mengarahkan pendidikan pada
kebutuhan ekonomi dan kapital. Untuk menjawab adanya proletariat di kampus
tadi, para profesor ini justru mengarahkan agar pendidikan sesuai dengan
kebutuhan pasar industri saja, sehingga pengangguran bisa dihilangkan. Hal ini
membuat keterasingan semakin besar karena tidak membuat mahasiswa menemukan
struktur dan substansi pendidikan yang sesuai dengan keinginannya. Mahasiswa
justru semakin kehilangan kesempatan untuk memilih karir, bidang studi, dan
peminatan yang sesuai dengan keahlian dan kebutuhan mereka. Mereka dipaksa
menerima pekerjaan, bidang studi dan peminatan yang ditentukan kebutuhan
industri. Hal ini dikarenakan posisi universitas yang berada di bawah kendali
kebutuhan ekonomi kapitalisme. Tentu reformasi seperti ini tidak akan
menyelesaikan masalah. Lantas bagaimana menyelesaikan masalah ini?
Untuk
menyelesaikan hal ini, perlu ada upaya untuk menghilangkan alienasi atau
keterasingan. Mahasiswa di Barat pada tataran ini menyadari bahwa akar dari
adanya alienasi adalah kapitalisme, selama masih ada kapitalisme maka akan
tetap ada bentuk alienasi dalam setiap sektor kehidupan masyarakat, termasuk di
Universitas. Kesadaran ini kemudian menuntun bentuk baru dalam perlawanan
mahasiswa. Penghilangan alienasi tidak bisa dilakukan di kampus saja, melainkan
dimulai di masyarakat dengan menghantam pola kehidupan kapitalisme yang menjadi
sebab adanya alienasi tersebut. Hal ini dikarenakan pengubahan sebuah segmen
tertentu di masyarakat, dalam hal ini universitas, tidak dapat dilakukan tanpa
mengubah tatanan masyarakat secara luas. Singkatnya mereka menyadari bahwa apa
yang terjadi di kampus mereka disebabkan oleh sistem kapitalisme yang sudah
menjalar dalam setiap sektor kehidupan, termasuk kampus mereka. Oleh karena
itu, gerakan mahasiswa di Barat secara revolusioner mulai mengubah haluan dalam
perlawanannya. Dimulai dari isu kampus beralih ke isu-isu sosial-politik di
sekitar mereka. Titik poin hantaman mereka adalah sistem kapitalisme yang ada
di dunia. Perlawanan pun berubah menjadi lintas batas Universitas. Solidaritas
atas perjuangan yang sama pun akhirnya terjalin di dunia karena adanya
persamaan sasaran tembak. Ini adalah penelusuran sejarah gerakan mahasiswa
secara historis materialisme (Histomat) yang terjadi di Barat.
Apakah
hal ini juga yang terjadi dalam gerakan mahasiswa di Indonesia, khususnya UI?
Perlu kita renungkan bersama atas pelajaran dari kawan-kawan kita di Barat.
Dalam
mewujudkan perlawanan tersebut, maka mutlak diperlukan adanya sebuah kesatuan
teori dan praktek. Dalam hal ini, sebuah anggapan bahwa teori dan praktek bisa
dipertentangkan atau dipisahkan merupakan hal yang salah. Aksi tanpa teori tak
akan berhasil melakukan perubahan yang mendasar, dan teori tanpa aksi hanya
akan menjadikan teori sebagai lelucuan belaka, karena tak pernah dilakukan
pengujian atasnya. Kesadaran dalam bergerak dilandasi akan pemahaman teori yang
harus mendalam. Tindak lanjutnya akan timbul sebuah kesadaran dalam diri
mahasiswa. Kesadaran inilah yang menjadi titik utama untuk mempraktekan teori
dalam sebuah aksi nyata. Kita harus mulai menghindari dikotomi pola pikir yang
salah antara mana yang lebih penting dari keduanya. Keduanya memiliki sifat
yang sejajar dan simetris sehingga keduanya harus menyatu dalam gerak
perlawanan.
Dikotomi
yang lumrah dalam dunia gerakan mahasiswa adalah adanya kerja intelektual dan
kerja manual. Hal ini harus dihilangkan karena menjadi wujud dasar adanya
pemisahan antara teori dan praktek. Pemisahan atau penggolongan kerja di antara
aktivis yang berfokus pada aktivisme berpikir dan aktivisme secara kasar
merupakan suatu penyakit dalam perjuangan revolusioner. Hal ini menyebabkan
kontadiksi antara apa yang dilakukan oleh aktivis dengan apa yang
dicita-citakannya. Sebuah harapan untuk menghilangkan ketimpangan, tetapi
justru membuat ketimpangan itu sendiri. Pemisahan teori dan praktek melalui
dikotomi kerja intelektual dan manual akan menyebabkan sebuah ketimpangan baru
dalam birokrasi. Sebuah anggapan bahwa kerja intelektual lebih terhormat dari
kerja manual atau sebaliknya merupakan implikasi dari adanya ketimpangan
tersebut. Kerja intelektual dan manual dalam perjuangan revolusioner harus
berjalan paralel, artinya setiap orang harus bisa mengintegrasikan antara
kemampuan intelektual dan manualnya. Dalam hal ini, ungkapan Ernest Mandel
sangatlah tepat, “…Kita harus bertahan bahwa tidak akan ada teoretisi
yang baik jika tidak terlibat dalam aksi, dan tidak akan ada
aktivis yang baik jika tidak dapat menerima, memperkuat dan memajukan teori.”[2]
Idealnya gerakan mahasiswa haruslah menjadi seperti itu.
Pemisahan
teori dan praktek melalui dikotomi kerja intelektual dan manual dalam gerakan
mahasiswa mutlak harus dihilangkan. Bentuk pemisahan yang pure dari
sekelompok orang yang bertugas membuat kajian saja dengan sekelompok orang yang
bertugas pokok dalam propaganda harus dihilangkan barrier-nya. Dalam
gerakan mahasiswa, setiap unsur harus memiliki kemampuan dalam berteori dan
beraksi jika perubahan mendasar menjadi targetnya. Dalam hal ini Ernest Mandell
menggambarkan mahasiswa yang “paripurna” dalam gerakan sebagai berikut,
“Di sana muncul pemimpin-pemimpin mahasiswa agitator yang juga dapat,
jika diperlukan, membangun barikade dan bertempur mempertahankannya, dan
pada saat yang sama dapat menulis artikel bahkan buku teoretis dan
berdiskusi dengan sosiolog terkemuka, ahli politik dan ekonomi dan
mengalahkan mereka dalam bidang ilmu mereka sendiri.” Hal ini yang muncul dalam
gerakan mahasiswa di Perancis, Jerman dan Italia.
Dalam
tesis Ernest, kesatuan teori dan praktek dalam gerakan mahasiswa dapat bertahan
dalam jangka waktu yang lama jika itu dituangkan dalam organisasi revolusioner.
Hal ini dikarenakan posisi mahasiswa yang tidak lama di kampus. Mahasiswa
berada di kampus mungkin hanya selama empat atau lima tahun, sedangkan
perjuangan revolusioner tidak dapat berlangsung seketika. Oleh karena itu,
keberlangsungan perjuangan revolusioner melalui penggabungan antara teori dan
praktek dalam gerakan mahasiswa harus dijaga dengan organisasi yang
revolusioner tersebut. Organisasi revolusioner dalam gagasan Ernest adalah
bergabungnya mahasiswa dan unsur-unsur progresif lain di masyarakat. Di Barat,
gagasan ini diwujudkan dengan bergabungnya mahasiswa dengan gerakan buruh. Hal
ini bisa kita lihat dalam aksi mahasiswa di Perancis pada tahun 1968 dan
gerakan mahasiswa di Turin, Italia.
Bergabungnya
mahasiswa dengan unsur lain di masyarakat merupakan sebuah keniscayaan.
Mahasiswa harus menghilangkan egonya untuk berjuang sendiri dan menjadi entitas
tersendiri yang bisa mengalahkan musuhnya sendiri pula. Hal tersebut merupakan
sebuah kemustahilan. Kegunaan antara integrasi mahasiswa dan gerakan
revolusioner lainnya di masyarakat dalam sebuah organisasi revolusioner
merupakan upaya untuk menjadikan interaksi timbal balik yang terus menerus,
saling menguatkan dengan tujuan yang sama. Musuh saat ini, saya kira juga
merupakan hal yang sama, jika kita berpikir dalam abstraksi yang lebih tinggi.
Dalam kasus Indonesia, mahasiswa saat ini harus mulai melebur dengan gerakan
buruh, tani, nelayan dan organisasi revolusioner lainnya. Mitos bahwa gerakan
mahasiswa harus independen dalam arti an sich harus dihilangkan. Justru
mahasiswa harus menyelam ke dunia masyarakat secara mendalam untuk ikut
berjuang bersama masyarakat. Dalam hal ini mahasiswa bukanlah guru mereka dan
masyarakat sebagai obyek sosialisasi mahasiswa, tapi dalam perjuangan yang
sebenarnya. Hal ini didasarkan oleh musuh yang bukan lagi negara atau
rezim yang dzalim atau pun aparatus yang represif. Musuh saat ini adalah sebuah
sistem. Sistem yang sifatnya sudah transnasional, yaitu kapitalisme.
Negara berada dalam sub-ordinat sistem kapitalisme yang membelenggu masyarakat
sendiri. Oleh karena itu perlawanan harus dilakukan secara bersama-sama antara
mahasiswa dan masyarakat secara metodis, sistematis, dan programis.
Hal
yang tak kalah penting dalam mewujudkan kesatuan teori dan praktek dalam gerakan
mahasiswa yang progresif dan revolusionner adalah semangat solidaritas.
Semangat ini bisa mencangkup tingkat nasional dan internasional. Gerakan
mahasiswa di belahan dunia lainnya juga mengalami apa yang ada di
Barat. Maka semangat untuk saling mendukung dalam perjuangan mutlak
diperlukan. Dan saya kira bergabungnnya mahasiswa dalam aliansi internasional
yang lintas batas negara terkait perjuangan yang sama perlu dilakukan. Akar
masalah yang dialami mahasiswa di Chile juga sama dengan apa yang kita alami di
sini. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa saat ini perlu bervisi untuk bergabung
dengan gerakan mahasiswa internasional dan gerakan progresif dan revolusioner
lainnya.
Maka,
apakah kita sebagai gerakan mahasiswa akan tetap berada dalam jalur yang
berbeda dengan gerakan buruh, tani, nelayan dan organisasi progresif lainnya
dalam rangka menjaga “mitos” independensi?
Agitasi
dan Propaganda
Melanjutkan
pembahasan tentang kesatuan teori dan praktek dalam dunia gerakan mahasiswa,
saya kira perlu pemahaman yang mendalam untuk mewujudkan teori tersebut dalam
praktek. Praktek di sini memiliki pengertian yang dekat dengan aksi, walaupun
bentuk aksi bisa berbeda-beda. Namun upaya untuk itu mutlak diperlukan sebagai
sebuah usaha untuk mengumpulkan manusia dalam interest yang sama. Dalam
usaha ini, agitasi dan propaganda diperlukan. Maka tulisan Duncan Hallas yang
berjudul “Agitasi dan Propaganda” diharapkan dapat membantu pemahaman akan hal
tersebut. [3]
Dalam
kamus Oxford, agitasi memiliki arti “membangkitkan perhatian (to excite)
atau mendorong (stir it up)”, sedangkan propaganda adalah sebuah
“rencana sistematis atau gerakan bersama untuk penyebarluasan suatu keyakinan
atau doktrin”. Dalam penjelasan Duncan, agitasi memfokuskan pada sebuah isu
kemudian mendorong orang untuk bertindak atas isu tersebut, sedangkan
propaganda berkaitan dengan penjelasan gagasan secara terinci dan
sistematis. Plekhanov memberikan pembedaan dalam hal ini. Menurut dia, “Seorang
propagandis menyajikan banyak gagasan ke satu atau sedikit orang; seorang
agitator menyajikan hanya satu atau sedikit gagasan, tetapi menyajikannya ke
sejumlah besar orang (a mass of people).” Pembedaannya dalam gagasan
yang diberikan dan kuantitas orang yang dituju. Sedangkan “ulama” besar Marxis,
Lenin, dalam bukunya What is to be Done menyatakan jika keduanya berbeda
dalam menyikapi sebuah isu. Menurutnya,
“Seorang
propagandis yang, katakanlah, berurusan dengan persoalan pengangguran, mesti
menjelaskan watak kapitalistis dari krisis, sebab dari tak terhindarkannya
krisis dalam masyarakat modern, kebutuhan untuk mentransformasikan masyarakat
ini menjadi sebuah masyarakat sosialis, dsb. Secara singkat, ia mesti
menyajikan “banyak gagasan”, betul-betul sangat banyak, sehingga gagasan itu
akan dipahami sebagai suatu keseluruhan yang integral oleh (secara komparatif)
sedikit orang. Meskipun demikian, seorang agitator, yang berbicara mengenai
persoalan yang sama, akan mengambil sebagai sebuah ilustrasi, kematian anggota
keluarga seorang buruh karena kelaparan, peningkatan pemelaratan (impoverishment)
dsb., dan penggunaan fakta ini, yang diketahui oleh semua orang, akan
mengarahkan upayanya menjadi penyajian sebuah gagasan tunggal ke
“massa”. Sebagai akibatnya, seorang propagandis bekerja terutama dengan mamakai
bahasa cetak; seorang agitator dengan memakai bahasa lisan.”
(Lenin, 1902)[4]
Contoh
kasus yang Lenin berikan tersebut telah memberikan gambaran secara gamblang
bagaimana seorang propagandis dan agitator bekerja. Keduanya memiliki cara yang
berbeda, namun keduanya tetap dalam koridor yang sama yaitu penyatuan
antara teori dan praktek. Seorang propagandis dan agitator haruslah memiliki
pemahaman yang mendalam akan sebuah teori, dan keduanya harus terlibat dalam
sebuah pengorganisiran massa.[5]
Propaganda
terbagi dalam dua jenis, yaitu propaganda abstrak dan realistik. Propaganda
abstrak memiliki pengertian bahwa gagasan yang diajukan sepenuhnya benar, namun
tidak terkait dengan perjuangan saat ini atau dengan tingkat kesadaran yang ada
di antara mereka yang menjadi sasaran dari penyebaran gagasan itu. Contohnya
adalah penghapusan sistem upah dalam sosialisme adalah benar, namun jika
itu ditawarkan saat ini tentu tidak tepat karena kesadaran buruh belum sampai
di situ. Sedangkan propaganda realistik adalah pengolahan isu yang real
terjadi dan argumen yang menjelaskan hal tersebut. Contohnya, propagandis
realistis di sebuah pabrik tidak akan mengusulkan penghapusan sistem upah. Ia
(laki-laki atau perempuan) akan mengusulkan serangkaian tuntutan yang
diharapkan dapat mengarahkan perjuangan ke kemenangan seperti peningkatan
upah, dll.
Agitasi
dan propaganda haruslah menjadi sebuah usaha pengorganisiran massa di
Universitas dalam gerakan mahasiswa. Hal ini yang mungkin menjadi kekurangan
gerakan mahasiswa saat ini, saat gerakan mahasiswa mulai ditinggalkan
mahasiswanya sendiri. Dalam melakukan ini tentu bukanlah sebuah hal yang mudah.
Oleh karena itu, upaya untuk belajar mengorganisir massa harus terus
dimunculkan. Mungkin hal ini bisa kita temukan dalam gerakan lain di
masyarakat. Harapannya, sebuah aksi pencerdasan bukanlah ritual belaka sebelum
aksi saja. Tapi sebuah upaya yang terorganisir dengan cara agitasi dan
propaganda yang benar sebagai sarana penyatuan teori dan praktek dalam gerakan
mahasiswa.
Catatan:
[2]
Ernest Mandel, op. cit.
[3]
Duncan Hallas, op. cit.
[5]
Pengorganisiran di sini harus dipahami secara mendalam. Pengorganisiran tidak
selamanya ditujukan untuk aksi massa secara terbuka saja. Pengorganisiran juga
memiliki arti pembuatan diskursus dalam masyarakat sehingga masyarakat memiliki
paradigma dan kesadaran yang sama. Contoh adalah gerakan Tarbiyah.