Senin, 28 Oktober 2013

AKSI AMST bersama FoRMaS

Formas: Tuntaskan Kasus TPPU Nur Alam
POSTED OCTOBER 28, 2013 - 17:19

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam. (Foto: Istimewa)
Jakarta, Seruu.com - Puluhan mahasiswa dan warga yang tergabung dalam Front Rakyat dan Mahasiswa Sultra (Formas) melakukan aksi unjuk rasa memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh hari ini. Elemen mahasiswa gabungan yang ikut unjuk rasa juga menuntut penuntasan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) USD4,5 juta yang dilakukan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam.

Dalam aksinya, massa menggelar aksi teartikal mengambarkan bingkai Sumpah Pemuda.

"Kami menekankan peran pemuda dalam mengawal terlaksananya cita-cita perjuangan kemrdekaan RI 1945, " ujar orator aksi Formas Wahidin Kusuma Putra dalam keterangan persnya kepada Seruu.com, Senin (28/10/2013).

"Secara khusus kami menitikberatkan posisi pemuda di Sulawesi Tenggara untuk bertanggung jawab mengawal segala kasus pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah Sultra, " tambah dia menegaskan.

Wahidin mengatakan, Formas siap mengawal hingga tuntas Dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sejumlah USD4,5 juta yang dilakukan Sultra Nur Alam.

"Kami tidak menginginkan daerah Sultra semakin hancur karena Nur Alam dibiarkan terus memimpin Sultra. Untuk itu, Formas meminta untuk Nur Alam segera diperiksa dan ditangkap, " tegasnya.

Menurutnya, informasi mengenai dugaan Kasus TPPU sebesar USD4,5 juta setara Rp36 Miliar sudah tersebar luas di media selama beberapa minggu ini dan sampai hari ini tidak ada bantahan sedikitpun yang dilakukan pihak Gubernur

"Hal ini menunjukan bahwa pihak Gubernur membenarkan kabar ini, " jelasnya.

Karena itu, Wahidin menambahkan, untuk mengantisipasi segala kemungkinan atas upaya-upaya  Gubernur Nur Alam untuk menutupi kasus ini dari publik serta mnghindari terjadinya suap, maka pihaknya berharap Kejaksaan Agung tidak lambat dalam penyelidikan serta bisa lebih terbuka kepada Publik.

"Tidak perlu ditutupi dari publik, masyarakat Sultra harus tahu kedok Gubernur Sultra," harap Wahidin.

"Kami juga berharap KPK RI tidak diam mengenai kasus ini, dan segera turun ke Sulawesi Tenggara untuk memeriksa seluruh aset kekayaan Nur Alam yang diduga sebagian besar dari hasil pencucian uang," pungkasnya. [Simon]

Minggu, 27 Oktober 2013

MOMENTUM SUMPAH PEMUDA ; PEJABAT BERHARAP, 
RAKYAT KECIL HARAP-HARAP CEMAS


Salam Pembebasan !

Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis. Kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli. Tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945. 
Dalam history perjuangannya, tidak sedikit pengorbanan yang telah diberikan oleh para pahlawan bangsa ini guna terciptanya fondasi dasar bangsa indonesia yang kokoh. Seakan tak perduli dengan apa yang dirampas dari diri mereka, entah itu harta, waktu, perasaan bahkan nyawa sekalipun. Namun yang patut kita yakini bahwa kekuatan terbesar yang mereka miliki pada saat itu hanyalah semata-mata tekad untuk memerdekakan bangsa indonesia. Hingga pada akhirnya kita dapat duduk manis dan tersenyum menikmati buah dari perjuangan mereka.
Seharusnya menjelang 85 tahun berlangsungnya momentum bersejarah tersebut, di bangsa ini sudah tak ada lagi jerit tangis bayi yang kelaparan. Tak ada lagi tangis istri dan anaknya yang menjadi janda serta yatim karena sang suami telah meninggalkan mereka, menjadi korban dari bengisnya hidup di negeri sendiri. Tak ada lagi saudara-saudara kita yang rela beralaskan gardus menjadi penghuni setia kolong jembatan kota-kota besar. Tak ada lagi petani yang mengeluh kelaparan karena lahannya dirampas oleh para pemodal asing. 
Akan tetapi tak selamanya kenyataan harus sejalan dengan harapan. Mimpi tentang kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan sosial di negeri ini sepertinya akan tetap menjadi mimpi. Menjadi bunga tidur yang setia menemani seluruh rakyat indonesia pada malam hari. Lalu kemudian beranjak pergi meninggalakn mereka dikala sang fajar menyongsong di ufuk timur negeri ini.

Ya...!!
Semua itu tentu akan terjadi. Sebab saksikanlah wahai saudara-saudariku yang hari ini merindukan sebuah kemenangan. Semenjak tanggal 27 Oktober 2013 lalu, media massa hanyalah dipenuhi oleh para kaum berdasi yang sedang coba memanfaatkan momentum bersejarah ini. Dengan hikmatnya mereka berkata-kata, menaruh harapan untuk bangsa. Seolah-olah dengan ocehannya itu, serta-merta bangsa ini akan jauh lebih baik. Tidakkah mereka menyadari bahwa merekalah yang sesungguhnya tidak menginginkan kebaikan untuk negeri ini. Hanya untuk memuaskan dahaga mereka akan harta,negara mesti mengeluarkan anggaran yang tak sedikit. 
Sementara itu disaat mereka tengah menikmati beragam bentuk kemewahan yang mereka miliki, rakyat kecil harus mengencangkan sabuk mereka seerat-eratnya agar rasa lapar yang mendera perut mereka sdikit terobati. 
Tak adil rasanya, jika dihari yang istimewa ini rakyat yang tertindas tidak mendapatkan peluang untuk berbicara dihadapan media tentang isi hati mereka sebagai rakyat Indonesia. Alhasil dari semuanya, yang ada dalam benak rakyat hanyalah harapan-harapan kecil yang penuh dengan rasa cemas.
"Tidak boleh ka mereka memiliki harapan untuk bangsa ini kedepannya??"
ataukah 
"Hanya pejabat yang dapat berharap sedangkan rakyat kecil hanya boleh harap-harap cemas?"


Aphank Brutal Intelektual
(A.B.I)

Sabtu, 26 Oktober 2013

SPIRIT SUMPAH PEMUDA


SAATNYA .. !!!
SUMPAH PEMUDA KEMBALI MENJADI SPIRIT PERJUANGAN PEMUDA

85 Tahun yang lalu tepat tanggal 28 oktober 1928,dalam sebuah pertemuan yang dinamakan Kongres Pemuda II di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat lahirlah sebuah gagasan besar yang mempersatukan seluruh pemuda lintas daerah,suku dan agama yang didasari kesamaan nasib dan cita-cita yakni cita-cita Memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan. Gagasan persatuan ini kemudian diikrarkan dalam sebuah sumpah yang dinamakan Sumpah Pemuda yang berbunyi :
-          Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
-          Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
-          Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Sumpah pemuda ini begitu kuat terpatri dalam jiwa setiap pemuda bangsa Indonesia saat itu sehingga sumpah pemuda seakan menjadi spirit perjuangan yang kokoh,melahirkan sebuah kekuatan anti kolonial yang besar yang tidak lagi mengenal rasa takut,tidak lagi mengenal kata mundur,tidak lagi memngenal kata menyerah yang ada hanyalah sebuah tekad Merebut Kemerdekaan Indonesia.
17 Agustus 1945, setelah melalui perjalanan panjang,pengorbanan yang besar,berbagai pergolakan pemikiran dan politik,semangat sumpah pemuda mencapai Klimaksanya dengan dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Dihari itu,segala pengorbanan keringat,darah,waktu,tenaga,pikiran,penjara,pengasingan seakan terbayarkan dengan terwujudnya cita-cita perjuangan yakni Kemerdekaan Indonesia dimana sejak itu Indonesia yang terdiri dari berbagai suku,agama,bahasa bersatu menjadi sebuah negara yang merdeka.
Lantas Bagaimana Kondisi Bangsa Indonesia Setelah 85 tahun diikrarkannya Sumpah pemuda dan 68 Tahun dikumandangkannya Proklamasi kemerdekaan indonesia. Dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia UUD 1945, cita-cita atau tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia dijelaskan secara gamblang dan jelas yakni Menciptakan Kesejahteraan Umum dalam hal ini seluruh Masyarakat Indonesia,Mencerdaskan Kehidupan bangsa,serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang didasarkan pada Ketuhanan yang Maha Esa,kemanusiaan yang adil dan beradab,persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilam serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sudahkah Cita-cita itu tercapai ?
Terkadang saya berkhayal,bagaimana seandainya suatu ketika para pendahulu yang telah melakukan pengorbanan yang besar dalam pencapain Kemerdekaan ini tiba-tiba bangkit dari kuburnya kemudian memberikan pertanyaan itu kepada kita Generasi yang memikul tanggung jawab melanjutkan Cita-cita kemerdekaan Indonesia ini. Jawaban apa yang akan kita berikan,hal apa yang akan kita tunjukan dari kondisi bangsa hari ini yang dapat memuaskan mereka yang telah memberikan hadiah kemerdekaan yang begitu indah yang hari ini kita nikmati.
Memang hal itu merupakan suatu hal yang tidak mungkin terjadi,tapi apakah kita gnerasi saat ini tidak pernah berpikir bahwa dengan membiarkan kondisi bangsa yang semakin hari semakin terpuruk kita telah melakukan penghianatan besar kepada mereka.Kita telah menyia-nyiakan perjuangan panjang mereka,menginjak-injak niat tulus mereka yang tidak menginginkan kita generasi pasca kemerdekaan merasakan kerasnya derita penjajahan seperti yang mereka rasakan saat itu.
Oleh karena itu,setelah 85 tahun diikrarkanya sumpah pemuda sudah saatnya kita Generasi Pemuda saat ini melaksanakan seluruh tanggung jawab kita dalam mendorong terwujudnya cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa. Sumpah Pemuda harus kembali menjadi Spirit Perjuangan pemuda dalam melawan Neokolonilisme yang dialami oleh bangsa Indonesia hari ini. Mengangkat tangan kiri sebagai simbol perlawanan kita terhadap para penghianat yang sedikit lagi mengembalikan kondisi bangsa Indonesia tak ubahnya kondisi bangsa Indonesia di masa Penjajahan.


                                                                                                Kendari,28 Oktober 2013
                       

                                                                                                Wahidin Kusuma Putra
                                                                                                 Ketua Umum AMST

Gubernur Sulawesi Tenggara diduga melakukan TPPU senilai U$ 4.5 juta

Gubernur Sultra Dituding "Cuci" Uang Rp 36 Miliar

  • Penulis :
  • Kontributor Kendari, Kiki Andi Pati
  • Senin, 21 Oktober 2013 | 15:49 WIB
Puluhan orang dari Gerakan Sultra Menggugat berunjukrasa di depan kantor Kejaksaan Tinggi setempat,mendesak Gubernur Sultra Nur Alam diperiksa karena diduga melakukan pencucian uang. | KOMPAS.com/ Kiki Andi Pati

“Indikasi itu, ada sangkaan dari seorang pengusaha tambang asal negara Taiwan bernama Mr Chen, memberikan uang dollar 4,5 juta kepada Gubernur Sultra untuk mengamankan wilayah konsesi tambangnya di Sultra. Mr Chen itu bekerjasama dengan pemilik PT Billy Indonesia, kami juga sudah mendengar, Kejaksaan Agung tengah melakukan penyelidikan dan memerintahkan Kejaksaan Tinggi untuk memeriksa Nur Alam,” ungkap Wahidin, koordinator aksi dalam orasinya di depan kantor Kejati Sultra, Senin (21/10/2013).

Untuk itu, Wahidin meminta pihak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara agar tidak mengulur waktu pemeriksaan Nur Alam, sebab dikhawatirkan akan menimbulkan kesan buruk bagi lembaga hukum, khususnya di Kejaksaan Tinggi.

Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) dan Humas Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, Baharuddin yang menerima lima orang perwakilan massa, mengatakan, pihaknya belum menerima perintah dari Kejagung untuk memeriksa Gubernur Sultra.

“Kami tidak mengetahui ada surat perintah Kejaksaan Agung terhadap Kejaksaan Tinggi untuk pemeriksaan Nur Alam. Kalaupun ada penyelidikan yang dilakukan Kejaksaan Agung, itu belum layak di-publish karena bersifat rahasia,” tegasnya.

Kendati demikian, tambah Baharuddin, pihaknya juga telah mengecek siaran pers yang biasanya dipublikasikan melalui situs Kejaksaan Agung. Namun, kata Bahruddin, belum ada siaran pers dari Kejaksaan Agung terkait penyelidikan dan surat perintah pemeriksaan terhadap Nur Alam.

“Hingga pagi ini, belum ada siaran pers Kejaksaan Agung yang di-publish melalui web, sehingga kami katakan, tidak ada surat perintah pemeriksaan itu,” tegas Baharuddin di depan massa aksi.

Mendengar jawaban Baharuddin, kelima perwakilan pengunjukrasa membubarkan diri dengan tertib. Mereka berjanji akan mengawal dugaan kasus suap Gubernur Sultra dan akan kembali melakukan aksi unjuk rasa dengan massa yang lebih besar lagi.

Sementara itu, Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Sulawesi, Abu Hasan yang dikonfirmasi terkait tudingan massa soal pencucian uang oleh Gubernur Sultra, tak bersedia berkomentar banyak. “Saya belum bisa menanggapi aksi yang dilakukan di Kejaksaan Tinggi Sultra. Saya no coment dulu, karena saya tidak tahu persis persoalannya,” katanya dihubungi melalui telepon, Senin (21/10/2013).
Editor : Farid Assifa

-see more at : http://regional.kompas.com/read/2013/10/21/1549304/Gubernur.Sultra.Dituding.Cuci.Uang.Rp.36.Miliar?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp