MOMENTUM SUMPAH PEMUDA ; PEJABAT BERHARAP,
RAKYAT KECIL HARAP-HARAP CEMAS
Salam Pembebasan !
Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis. Kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli. Tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Dalam history perjuangannya, tidak sedikit pengorbanan yang telah diberikan oleh para pahlawan bangsa ini guna terciptanya fondasi dasar bangsa indonesia yang kokoh. Seakan tak perduli dengan apa yang dirampas dari diri mereka, entah itu harta, waktu, perasaan bahkan nyawa sekalipun. Namun yang patut kita yakini bahwa kekuatan terbesar yang mereka miliki pada saat itu hanyalah semata-mata tekad untuk memerdekakan bangsa indonesia. Hingga pada akhirnya kita dapat duduk manis dan tersenyum menikmati buah dari perjuangan mereka.
Seharusnya menjelang 85 tahun berlangsungnya momentum bersejarah tersebut, di bangsa ini sudah tak ada lagi jerit tangis bayi yang kelaparan. Tak ada lagi tangis istri dan anaknya yang menjadi janda serta yatim karena sang suami telah meninggalkan mereka, menjadi korban dari bengisnya hidup di negeri sendiri. Tak ada lagi saudara-saudara kita yang rela beralaskan gardus menjadi penghuni setia kolong jembatan kota-kota besar. Tak ada lagi petani yang mengeluh kelaparan karena lahannya dirampas oleh para pemodal asing.
Akan tetapi tak selamanya kenyataan harus sejalan dengan harapan. Mimpi tentang kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan sosial di negeri ini sepertinya akan tetap menjadi mimpi. Menjadi bunga tidur yang setia menemani seluruh rakyat indonesia pada malam hari. Lalu kemudian beranjak pergi meninggalakn mereka dikala sang fajar menyongsong di ufuk timur negeri ini.
Ya...!!
Semua itu tentu akan terjadi. Sebab saksikanlah wahai saudara-saudariku yang hari ini merindukan sebuah kemenangan. Semenjak tanggal 27 Oktober 2013 lalu, media massa hanyalah dipenuhi oleh para kaum berdasi yang sedang coba memanfaatkan momentum bersejarah ini. Dengan hikmatnya mereka berkata-kata, menaruh harapan untuk bangsa. Seolah-olah dengan ocehannya itu, serta-merta bangsa ini akan jauh lebih baik. Tidakkah mereka menyadari bahwa merekalah yang sesungguhnya tidak menginginkan kebaikan untuk negeri ini. Hanya untuk memuaskan dahaga mereka akan harta,negara mesti mengeluarkan anggaran yang tak sedikit.
Sementara itu disaat mereka tengah menikmati beragam bentuk kemewahan yang mereka miliki, rakyat kecil harus mengencangkan sabuk mereka seerat-eratnya agar rasa lapar yang mendera perut mereka sdikit terobati.
Tak adil rasanya, jika dihari yang istimewa ini rakyat yang tertindas tidak mendapatkan peluang untuk berbicara dihadapan media tentang isi hati mereka sebagai rakyat Indonesia. Alhasil dari semuanya, yang ada dalam benak rakyat hanyalah harapan-harapan kecil yang penuh dengan rasa cemas.
"Tidak boleh ka mereka memiliki harapan untuk bangsa ini kedepannya??"
ataukah
"Hanya pejabat yang dapat berharap sedangkan rakyat kecil hanya boleh harap-harap cemas?"
Aphank Brutal Intelektual
(A.B.I)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar